1. Profil Perusahaan
HONDA138 : PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk, dengan kode saham CDIA, merupakan perusahaan yang bergerak di bidang ritel bahan bangunan dan perlengkapan rumah tangga. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1996 dan menjadi salah satu pionir dalam format “one stop shopping” untuk kebutuhan bahan bangunan di Indonesia. Depo Bangunan menawarkan konsep supermarket bahan bangunan, di mana pelanggan dapat menemukan berbagai produk mulai dari semen, keramik, cat, peralatan listrik, hingga perlengkapan sanitasi dalam satu tempat yang luas dan nyaman.

Kantor pusat CDIA berlokasi di Jakarta, dengan jaringan gerai yang tersebar di beberapa kota besar seperti Tangerang, Bekasi, Bandung, Surabaya, dan Bali. Visi perusahaan adalah menjadi jaringan ritel bahan bangunan terbesar dan terpercaya di Indonesia, dengan misi memberikan pelayanan terbaik, produk berkualitas, serta harga yang kompetitif.
CDIA resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 31 Maret 2023. Pada saat IPO, CDIA menawarkan 625 juta saham baru dengan harga penawaran Rp376 per saham, sehingga berhasil menghimpun dana sebesar Rp235 miliar. Dana hasil IPO sebagian besar digunakan untuk ekspansi gerai baru dan penguatan modal kerja.
2. Bisnis dan Model Operasi
Depo Bangunan mengoperasikan gerainya dengan konsep ritel modern berbasis gudang, serupa dengan model “home improvement store” seperti Home Depot di Amerika Serikat. Artinya, gerai tidak hanya berfungsi sebagai toko, tetapi juga sebagai gudang penyimpanan yang menampung ribuan item produk dari berbagai merek ternama.
Model bisnis CDIA memiliki keunggulan berikut:
- Efisiensi distribusi: karena perusahaan membeli langsung dari produsen atau distributor besar.
- Skala ekonomi: semakin banyak gerai, semakin kuat posisi tawar terhadap pemasok.
- Konsistensi harga: pelanggan mendapatkan harga stabil dan kompetitif tanpa negosiasi seperti di toko tradisional.
- Pengalaman belanja modern: tata letak toko yang rapi dan pelayanan pelanggan yang profesional.
CDIA tidak hanya menjual ke pelanggan ritel (B2C), tetapi juga melayani kontraktor dan pengembang properti (B2B) yang membutuhkan pembelian dalam jumlah besar.
3. Kinerja Keuangan
Sejak IPO, kinerja keuangan CDIA menunjukkan tren pertumbuhan positif meskipun menghadapi tantangan ekonomi makro. Berdasarkan laporan keuangan terakhir yang dipublikasikan (per Juni 2025):
- Pendapatan (Revenue): sekitar Rp1,8 triliun, naik dari Rp1,5 triliun pada tahun sebelumnya.
- Laba bersih (Net Profit): Rp130 miliar, meningkat dari Rp90 miliar pada tahun sebelumnya.
- Margin laba bersih: berkisar 7,2%, relatif baik untuk bisnis ritel bahan bangunan.
- Total aset: mencapai sekitar Rp2,5 triliun, dengan ekuitas Rp1,6 triliun.
- Debt to Equity Ratio (DER): sekitar 0,4x — menunjukkan struktur modal yang sehat dan konservatif.
Pertumbuhan ini didukung oleh kenaikan volume penjualan, efisiensi operasional, serta pembukaan gerai baru di beberapa kota potensial.
4. Analisis Fundamental Saham
a. Valuasi
Pada harga saham sekitar Rp420 per lembar (per Oktober 2025), kapitalisasi pasar CDIA berada di kisaran Rp2,6 triliun. Dengan laba bersih Rp130 miliar, maka Price to Earnings Ratio (PER) CDIA sekitar 20x, tergolong moderat untuk sektor ritel modern di Indonesia.
Price to Book Value (PBV) sekitar 1,6x, menunjukkan valuasi masih wajar dan belum terlalu mahal.
b. Profitabilitas
- Gross Profit Margin (GPM): 25–27%
- Operating Margin: 10–12%
- Return on Equity (ROE): 8–10%
Angka-angka tersebut menandakan efisiensi operasional yang baik, terutama jika dibandingkan dengan ritel bahan bangunan konvensional.
c. Likuiditas dan Solvabilitas
CDIA memiliki Current Ratio di atas 2x, artinya aset lancarnya dua kali lebih besar dari kewajiban jangka pendek. Hal ini memperlihatkan kemampuan likuiditas yang sangat baik. Selain itu, rendahnya tingkat utang menjadikan risiko keuangan perusahaan relatif kecil.
5. Analisis Industri dan Persaingan
Pasar ritel bahan bangunan di Indonesia sangat potensial, seiring dengan:
- Pertumbuhan sektor properti dan perumahan.
- Urbanisasi dan pembangunan infrastruktur.
- Meningkatnya daya beli masyarakat kelas menengah.
Namun, persaingan juga cukup ketat. Pemain besar selain CDIA antara lain:
- Mitra10 (PT Catur Sentosa Adiprana Tbk / CSAP)
- ACE Hardware (ACES)
- Toko-toko bahan bangunan lokal dan tradisional yang masih mendominasi sebagian besar wilayah.
Keunggulan CDIA dibanding pesaingnya adalah spesialisasi di segmen bahan bangunan inti (core building materials) dengan harga grosir, bukan hanya perlengkapan rumah tangga seperti ACES.
6. Prospek Bisnis ke Depan
Prospek saham CDIA sangat ditopang oleh tren pertumbuhan sektor properti dan infrastruktur nasional. Pemerintah Indonesia terus mendorong pembangunan rumah subsidi, kawasan industri, dan proyek Ibu Kota Nusantara (IKN), yang semuanya membutuhkan bahan bangunan dalam jumlah besar.
Beberapa faktor positif untuk masa depan CDIA:
- Ekspansi gerai baru: CDIA berencana menambah 2–3 gerai baru setiap tahun, terutama di kota-kota tingkat dua seperti Semarang, Makassar, dan Medan.
- Transformasi digital: perusahaan mulai mengembangkan platform e-commerce Depo Bangunan Online untuk menjangkau pelanggan di luar wilayah toko fisik.
- Efisiensi logistik: pembangunan gudang pusat (distribution center) untuk mempercepat pasokan antar gerai.
- Kemitraan B2B: memperluas kerja sama dengan pengembang dan kontraktor besar untuk penjualan proyek.
- Meningkatnya kesadaran gaya hidup rumah modern: masyarakat kini cenderung memilih produk bangunan dengan kualitas dan estetika lebih baik, yang cocok dengan segmen CDIA.
7. Risiko Investasi
Meski prospeknya menarik, investor juga perlu memperhatikan sejumlah risiko:
- Fluktuasi harga bahan baku: kenaikan harga semen, baja, atau impor bisa mempengaruhi margin.
- Persaingan harga ketat: terutama dari toko-toko bahan bangunan tradisional dengan biaya operasional lebih rendah.
- Ketergantungan pada sektor properti: perlambatan di sektor konstruksi dapat menghambat penjualan.
- Risiko ekspansi: pembukaan gerai baru membutuhkan investasi besar dan waktu untuk mencapai titik impas (break-even).
- Inflasi dan suku bunga tinggi: dapat menurunkan daya beli konsumen serta meningkatkan biaya operasional.
Namun, CDIA memiliki manajemen berpengalaman dan strategi ekspansi yang berhati-hati, sehingga risiko tersebut relatif terkendali.
8. Pandangan Analis dan Investor
Sebagian analis pasar modal menilai CDIA sebagai saham defensif di sektor konsumsi-semi properti, dengan potensi pertumbuhan stabil.
Faktor-faktor pendukung sentimen positif:
- Fundamental kuat, utang rendah, dan laba meningkat.
- Potensi ekspansi nasional.
- Masuknya investor institusional pasca-IPO.
- Dividen yang mulai dibagikan (payout ratio sekitar 30%).
Dengan PER di kisaran 20x dan pertumbuhan laba tahunan sekitar 15%, CDIA masih tergolong undervalued dibanding pesaing seperti ACES yang PER-nya di atas 25x.








