1. Profil Singkat Bank OCBC NISP Tbk (NISP)
HONDA138 : PT Bank OCBC NISP Tbk, dengan kode saham NISP, merupakan salah satu bank komersial tertua di Indonesia. Bank ini didirikan pada tahun 1941 di Bandung dengan nama NV Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank. Seiring perjalanan waktu, bank ini terus tumbuh dan mengalami beberapa kali perubahan nama hingga akhirnya menjadi Bank OCBC NISP setelah diakuisisi oleh OCBC Bank Singapore pada tahun 2005.

OCBC Bank (Oversea-Chinese Banking Corporation Limited) adalah salah satu grup keuangan terbesar di Asia Tenggara. Kepemilikan OCBC Singapore atas NISP kini mencapai lebih dari 85%, menjadikan NISP bagian penting dari jaringan perbankan regional OCBC Group.
Bank OCBC NISP berfokus pada layanan perbankan ritel dan korporasi, termasuk pembiayaan UKM, kredit konsumsi, wealth management, serta layanan digital banking.
2. Kinerja Keuangan Terbaru
a. Aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK)
Hingga kuartal II tahun 2025 (estimasi berdasar tren terakhir 2024), total aset Bank OCBC NISP berada di kisaran Rp260–270 triliun, menempatkannya dalam jajaran 10 besar bank terbesar di Indonesia berdasarkan aset.
DPK tumbuh stabil dengan peningkatan tabungan dan deposito, terutama dari segmen ritel dan korporasi. Hal ini menunjukkan kepercayaan nasabah yang kuat dan kemampuan bank untuk mengelola likuiditas dengan baik.
b. Kredit yang Diberikan (Loan Growth)
Penyaluran kredit tumbuh sekitar 8–10% YoY, sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional. Pertumbuhan terutama didorong oleh sektor konsumsi, manufaktur, dan properti, serta kredit modal kerja untuk UMKM.
Bank ini juga berhati-hati dalam mengelola risiko kredit, dengan menjaga rasio NPL (Non Performing Loan) di bawah 1,5%, jauh di bawah rata-rata industri perbankan nasional (sekitar 2,5%).
c. Profitabilitas dan Efisiensi
Laba bersih NISP terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, laba bersih mencapai sekitar Rp4,5–5 triliun, naik sekitar 10–12% dari tahun sebelumnya.
Faktor pendorong utama adalah pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) dan biaya operasional yang efisien.
Rasio Net Interest Margin (NIM) berada di kisaran 4,2–4,5%, mencerminkan kemampuan bank dalam menghasilkan margin keuntungan yang sehat dari aktivitas intermediasi.
Sementara itu, rasio BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional) terus turun ke sekitar 70–72%, menandakan efisiensi yang semakin baik.
d. Permodalan
Bank OCBC NISP memiliki rasio CAR (Capital Adequacy Ratio) di atas 22%, jauh di atas batas minimum OJK sebesar 8%. Ini menunjukkan posisi modal yang sangat kuat dan memberikan ruang bagi ekspansi bisnis maupun penyerapan risiko kredit.
3. Analisis Fundamental Saham NISP
a. Valuasi
Harga saham NISP pada Oktober 2025 berada di kisaran Rp1.300–1.400 per lembar. Dengan laba per saham (EPS) sekitar Rp120–130, rasio PER (Price to Earnings Ratio) NISP berkisar 10–11x, relatif murah dibanding rata-rata sektor perbankan besar (sekitar 12–15x).
Rasio PBV (Price to Book Value) sekitar 1,0–1,1x, menunjukkan bahwa harga sahamnya masih di sekitar nilai bukunya, menandakan valuasi yang menarik bagi investor jangka panjang.
b. Dividen
Bank OCBC NISP dikenal konsisten membagikan dividen setiap tahun, dengan dividend payout ratio sekitar 20–25% dari laba bersih. Yield dividen biasanya berada di kisaran 1,5–2,0% per tahun.
Meski tidak setinggi bank besar seperti BCA atau BRI, stabilitas pembagian dividen NISP memberikan daya tarik bagi investor yang mencari pendapatan pasif.
c. Likuiditas dan Kepemilikan
Sebagian besar saham NISP dimiliki oleh OCBC Singapore, sehingga free float (saham publik) relatif kecil, sekitar 14–15%. Hal ini menyebabkan likuiditas perdagangan saham di bursa tidak terlalu tinggi, meskipun fundamental perusahaan kuat.
4. Analisis Teknis Saham NISP
Secara teknikal, saham NISP menunjukkan tren konsolidasi dalam jangka menengah. Setelah sempat mencapai level tertinggi di sekitar Rp1.500, saham ini bergerak di kisaran Rp1.250–1.400 dengan support kuat di area Rp1.200 dan resistance di Rp1.450.
Indikator Moving Average (MA50 dan MA200) menunjukkan kecenderungan sideways to bullish, sementara indikator RSI (Relative Strength Index) berada di level netral (50–55), menandakan ruang kenaikan masih terbuka.
Jika saham mampu menembus resistance Rp1.450 dengan volume kuat, potensi target berikutnya berada di area Rp1.600–1.700. Namun jika gagal, saham berpotensi kembali menguji area support Rp1.250.
5. Strategi dan Inovasi Bisnis
Bank OCBC NISP berkomitmen mengembangkan transformasi digital untuk memperkuat layanan dan efisiensi.
Beberapa langkah strategis yang dilakukan antara lain:
- Digital Banking Platform – Meluncurkan aplikasi “OCBC Digital” yang menyatukan layanan personal dan bisnis dengan sistem keamanan canggih dan fitur wealth management digital.
- Sustainability Banking – Aktif mendukung pembiayaan hijau (green financing) dan program ESG (Environmental, Social, Governance), termasuk kredit untuk sektor energi terbarukan dan UMKM berkelanjutan.
- Kolaborasi dengan Startup dan Fintech – Menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi keuangan untuk memperluas jangkauan nasabah digital.
- Penguatan Wealth Management – Fokus pada nasabah affluent dan high-net-worth melalui produk investasi dan asuransi yang terintegrasi.
Langkah-langkah ini memperkuat posisi NISP sebagai bank menengah dengan orientasi digital dan keberlanjutan yang kuat.
6. Peluang Pertumbuhan
- Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Pemulihan ekonomi domestik yang stabil mendorong peningkatan permintaan kredit konsumsi dan investasi. Bank NISP berada di posisi yang baik untuk menangkap momentum ini. - Dukungan dari OCBC Group
Dengan dukungan modal dan jaringan internasional dari OCBC Singapore, NISP memiliki akses terhadap teknologi, manajemen risiko, dan strategi bisnis kelas dunia. - Digitalisasi dan Efisiensi
Transformasi digital akan menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan pengalaman nasabah, yang pada akhirnya mendorong profitabilitas. - Peningkatan Segmen UMKM dan Wealth Management
Dua segmen ini diprediksi menjadi motor pertumbuhan utama bank dalam lima tahun ke depan.
7. Risiko dan Tantangan
- Persaingan Ketat di Industri Perbankan
Persaingan dari bank besar (BCA, BRI, Mandiri) dan bank digital baru semakin tajam. NISP perlu terus berinovasi agar tidak tertinggal. - Risiko Suku Bunga Global
Kenaikan suku bunga global dapat meningkatkan biaya dana (cost of fund) dan menekan margin keuntungan. - Likuiditas Saham Rendah
Dengan porsi kepemilikan publik yang kecil, likuiditas saham NISP di pasar cenderung rendah, membuatnya kurang menarik bagi trader jangka pendek. - Ketergantungan pada Ekonomi Domestik
Sebagai bank yang fokus pada pasar Indonesia, perlambatan ekonomi domestik bisa berdampak langsung pada pertumbuhan kredit.
8. Prospek Investasi dan Kesimpulan
Secara keseluruhan, saham NISP adalah salah satu saham bank yang solid secara fundamental, meskipun belum terlalu populer di kalangan investor ritel karena likuiditasnya terbatas.
Bank ini menunjukkan:
- Pertumbuhan laba yang konsisten
- Rasio keuangan sehat (CAR tinggi, NPL rendah)
- Valuasi masih menarik (PER rendah, PBV sekitar 1x)
- Dukungan kuat dari induk usaha OCBC Singapore
Bagi investor jangka panjang yang mencari saham bank stabil, undervalued, dan berpotensi tumbuh moderat, NISP adalah pilihan yang layak dipertimbangkan.
Namun bagi investor jangka pendek atau trader, saham ini mungkin kurang menarik karena pergerakannya lambat dan volume perdagangan terbatas.
Dengan prospek digitalisasi, fokus ESG, serta dukungan induk yang kuat, NISP berpeluang menjadi bank menengah yang terus tumbuh dan solid dalam 5–10 tahun ke depan.